2013, Rakyat Indonesia Tambah Sengsara


Beragam data ekonomi pada 2013 dinilai menunjukkan rakyat Indonesia bertambah sengsara dalam setahun terakhir. Tantangan perekonomian 2014 adalah pembenahan struktural, termasuk sektor pertanian dan swasembada pangan.

"Selama setahun terakhir kualitas pembangunan sangat merosot," kata anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Arif Budimanta, Sabtu (4/1/2014). Beberapa indikator, sebut dia, menjadi acuannya.

Naiknya tingkat kesengsaraan rakyat, ujar Arif, terlihat dari melonjaknya angka indeks kesengsaraan (misery index) Indonesia. Semakin tinggi angka indeks ini, menunjukkan semakin sulitnya kehidupan seseorang.

Pada 2012, indeks kesengsaraan rakyat Indonesia adalah 10,72. Pada akhir 2013, angkanya melonjak menjadi 15,04. Indeks ini merupakan indikator ekonomi yang perhitungannya menggunakan angka inflasi dan pengangguran sebagai variabel.

Inflasi Indonesia pada akhir 2013 yang mencapai 8,38 persen, kata Arif, jauh melampaui asumsi makro yang dipatok untuk APBN 2013 di level 7,2 persen. Meskipun, angka pada akhir tahun itu jauh lebih rendah dari perkiraan inflasi setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minya bersubsidi, di kisaran 10 persen.

Bahan pangan menyumbang 11,35 persen inflasi dan transportasi 15,36 persen. Jumlah penduduk miskin juga tercatat naik dari 11,37 persen pada Maret 2013 menjadi 11,47 persen pada akhir 2013. "Saya sudah mengingatkan bahwa biaya untuk menahan inflasi dari kenaikan harga BBM serta ongkos penanggulangannya harus dihitung masak-masak," ujar Arif.

Arif mengatakan pengurangan subsidi BBM dapat menimbulkan ongkos yang lebih besar daripada biaya yang dihemat. Dia pun mengaku sudah mengingatkan Bank Indonesia bahwa kenaikan suku bunga acuan (BI rate) akan menambah ongkos produksi yang ujungnya adalah mendongkrak harga barang.

Petani semakin miskin

Secara khusus Arif menyinggung terus memburuknya kualitas kesejahteraan petani merujuk pada angka nilai tukar petani (NTP). Indikator ini mengukur daya beli petani dibandingkan dengan pendapatan dari hasil produksi pertanian mereka.

Kenaikan beragam harga kebutuhan langsung menghantam para petani. Setelah NTP mereka berada di titik impas 100 persen pada 2012, di akhir 2013 angkanya turun ke 99,72 persen. Kenaikan harga jual produk pertanian tak menutup biaya untuk memenuhi kebutuhan minimal para petani. Penurunan daya beli terutama terjadi di sektor pertanian pangan dan hortikultura.

Inflasi tinggi tetap menjadi tantangan untuk diatasi pada 2014, kata Arif, karena menyangkut kredibilitas kebijakan pemerintah di mata masyarakat. Arif berharap pemerintah menutup periodisasi pemerintahan pada tahun ini dengan perbaikan fundamental ekonomi, termasuk sektor pertanian dan swasembada pangan.

Kompas