2014 Demokrat Tidak Bisa Mengusungkan Presiden

AJP.Com, Jakarta - Menentukan calon presiden (capres) bukan pekerjaan mudah bagi partai politik (parpol). Apalagi parpol belum mengetahui hasil pemilu 2014. Namun, ada sebagian parpol yang telah menetapkan sekaligus mendeklarasikan capres sekaligus calon wakil presiden (cawapres) sejak dini.

Sebagai parpol pemenang pemilu 2009, publik menantikan capres yang bakal diusung Partai Demokrat (PD). PD terkesan tidak gegabah mencari figur capres yang tepat untuk menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY yang juga Ketua Umum (Ketum) DPP PD memutuskan untuk menggelar Konvensi Capres.

Konvensi telah dimulai pada September 2013 dan berakhir April 2014. Tiga lembaga survei yang dirahasiakan bakal melakukan jajak pendapat untuk 11 peserta konvensi. Artinya, pemenang konvensi ditentukan oleh tiga lembaga survei itu. Perkembangan konvensi hingga saat ini tampaknya belum mampu memulihkan kepercayaan PD. Bahkan elektabilitas PD semakin tenggelam. Selain itu, elektabilitas peserta konvensi juga masih berada di bawah.

Para peserta konvensi terpaut jauh dengan tokoh-tokoh yang digadang bakal menjadi capres seperti Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto, Ketum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie, dan Ketum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri.

“Dengan realitas politik yang ada sekarang, bisa saja Demokrat terancam tidak bisa usung pemenang konvensi sebagai capres,” kata Peneliti dari Indonesia Publik Institut (IPI) Karyono Wibowo di Jakarta, Rabu (29/1/2014).

PD sepertinya harus menyiapkan skenario lain di luar konvensi. Salah satu caranya ialah mengajukan cawapres. “Opsi bagi Demokrat kini ada dua, yaitu mengajukan cawapres berkoalisi dengan partai lain atau tetap mengusung capres konvensi dengan menggalang koalisi. Tetapi opsi yang terakhir masih diragukan, karena menurut saya Demokrat tidak lagi jadi magnet pada pemilu 2014,” ujarnya.

Parpol lain, masih kata Karyono, tentu akan melakukan kalkulasi politik. “Parpol lain cenderung memilih berkoalisi dengan partai atau capres yang berpotensi menang di pemilu,” imbuh Karyono.

Menurut Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, pemenang konvensi memang dapat dipertimbangkan masuk bursa capres maupun cawapres. Syaratnya, PD mendapatkan dukungan suara signifikan pada pemilu 2014. “Kalau suara Demokrat jeblok saat pemilu, maka sulit mengatur koalisi. Biasanya partai yang mendapatkan suara lebih besar yang akan leading dalam koalisi,” kata Siti.

Sedangkan pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heryanto berpendapat, konvensi hanya menjadi panggung politik yang minim impresi dan apresiasi dari khalayak. Ia menilai, sejak awal konvensi dibuat sebagai salah satu cara untuk mengatasi problem elektabilitas partai.

"Jadi jika itu orientasinya, maka konvensi sendiri tak mampu memalingkan perhatian dan kepercayaan khalayak. Perkembangannya saya lihat, monoton. Beberapa gelaran debat antar kontestan juga tak cukup memadai untuk kita katakan sebagai perang gagasan,” katanya.

Manuver peserta konvensi untuk ‘main mata’ dengan parpol lain, lanjut dia, kemungkin bisa terjadi. “Tentu, di tengah situasi politik yang kompetitif, bisa saja di antara kontestan konvensi merasa peluangnya minim di Demokrat dan melakukan komunikasi-komunikasi politik dengan pihak lain,” jelas Gun Gun.