Di Abdya, Puluhan Baliho Sosialisai Pemilu 2014 Roboh


AJP.Com Blangpidie – Puluhan baliho sosialisasi Pemilu Legislatif 2014 milik Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Barat Daya (Abdya) roboh akibat dikerjakan asal jadi dan tidak sesuai prosedur.

Salah satunya keberadaan baliho di samping pekarangan kantor Camat Manggeng di jalan nasional, Desa Paya. Baliho bertuliskan ajakan ‘Ayo Memilih Untuk Indonesia’ jatuh dari tiang penyangganya.

“Baliho raksasa ini jatuh dan rusak begini hanya berselang sejamsetelah dipasang,” ungkap kelana, Kamis (2/1/2014). Dikatakannya, baliho itu dipasang dengan tiang penyangga batang pokok nibung dan dua balok kayu ukuran 5×5. Saat dihantam angin, kata lana, tiang penyangga beserta baliho roboh. 

“Pemasangan baliho ini cilet-cilet atupun asal jadi, pasti tidak sesuai prosedur,” katanya.
Hal serupa juga terjadi di Desa Ujong Tanoh, Kecamatan Lembah Sabil. Baliho milik KIP Abdya juga roboh dan menutupi jalan lintas warga di samping Mesjid Al-Munawwarah desa setempat. Menurut Fauzan Adami, ketua pemuda desa setempat, baliho raksasa itu hampir saja menimpa sejumlah anak-anak yang bermain di lokasi mesjid dan Taman Pengajian Al-quran (TPA). 

“Di samping membahayakan anak-anak di desa ini, robohnya baliho mengakibatkan aliran listrik ke Mesjid dan TPA terputus,” ungkapnya.

Demikian juga baliho raksasa milik KIP Abdya di sepanjang jalan negara mulai dari Kecamatan Lembah Sabil hingga Kecamatan Manggeng, Tangan-Tangan, Setia dan Kecamatan Blangpidie tidak ada sempurna lagi. Rata-rata baliho itu sudah rusak dan tiang penyangganya banyak yang sudah roboh.

Ketua KIP Abdya Muhammad Jakfar yang dihubungi terkait masalah itu menolak memberi komentar dengan alasan dirinya bukan sebagai Pengguna Anggaran (PA). “Dalam masalah itu kami pihak komisioner KIP jelas no comment, silakan tanyakan pada PA langsung dalam hal ini bapak Sekretaris KIP,” elaknya.

Sementara itu, Sekretaris KIP Abdya Zulbaili yang dihubungi melalui ponselnya juga belum mau memberi keterangan dengan alasan sedang berada di Tapaktuan, Aceh Selatan. “Nanti saja kita jumpa ya, kita selesaikan secara adat, jangan ditulis dulu ya, tunggu saya pulang ke Abdya,” katanya singkat tanpa menjelaskan makna penyelesaian secara adat yang dimaksudnya. (PM)