Dosen FMIPA Unsyiah : Bijih Besi di Aceh Bermineral Tinggi

AJP.Com, Banda Aceh - Ketua Tim Focal Research Area (FRA) FMIPA Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Dr Zulkarnain Jalil MSi mengatakan, bijih besi yang terdapat di Aceh Besar, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan terbukti mengandung mineral bernilai tinggi, sehingga lebih menguntungkan Aceh bila bahan tambang tersebut tidak diekspor mentah, melainkan harus dalam bentuk bahan setengah jadi atau barang jadi.

Hal itu diungkapkan Zulkarnain Jalil menanggapi pemberitaan Serambi dalam beberapa hari terakhir tentang adanya larang ekspor mineral mentah, terutama bijih besi dari Aceh. “Kami merasa terpanggil untuk membeberkan hasil riset kami sepanjang 2012-2013,” ujarnya. 

Menurut Zulkarnain, timnya sudah melakukan identifikasi fasa menggunakan teknik difraksi sinar-X. Hasilnya, bijih besi yang terdapat di Lhoong dan Lampakuk (Aceh Besar), kemudian Manggamat (Aceh Selatan), dan Babahrot (Abdya) merupakan bijih besi yang potensial, didominasi oleh senyawa hematite (Fe2O3) dan magnetite (Fe3O4).  

Untuk mengetahui kandungan mineral di dalam bijih besi tersebut, kata Zulkarnain, pihaknya melakukan identifikasi dengan teknik fluoresensi sinar-X. Dengan cara ini akhirnya diketahui bahwa bijih besi Lhoong memiliki kandungan hematite mencapai 93,88% dan bijih besi Manggamat sebesar 85,31 %. Adapun bijih besi di Lampakuk didominasi oleh jenis magnetite sebesar 86,81%, sedangkan di Babahrot 79,22%.
“Saat ini kami sedang lakukan identifikasi untuk melihat karateristik bijih besi di daerah Subulussalam,” sebutnya.
Menariknya lagi, kata Zulkarnain, hasil pengukuran sifat kemagnetan pada bijih besi Aceh, di samping sebagai bahan baku untuk besi baja, juga potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri magnet lunak atau soft magnet (aplikasinya seperti untuk transformator, elektromotor, dan perangkat elektronik).
“Bijih besi dimaksud terlebih dulu kami reduksi menjadi serbuk berskala nano secara mekanis (mechanical milling). Karena itu, sangat disayangkan jika mineral itu diekspor secara mentah, umumnya ke Cina. Hasil olahan di negeri Cina, lalu dikirim lagi ke kita dalam bentuk barang jadi dengan nilai jual yang lebih tinggi. Alhasil, nilai tambahnya justru dinikmati oleh Cina,” kata peneliti Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Koridor Sumatera, bidang fokus besi baja ini.
Ia menilai, tiga tawaran Pemerintah Aceh, seperti dilansir Serambi, Rabu (15/1), cukup moderat untuk dijadikan bahan rujukan. “Sudah saatnya kita tidak menjual lagi hasil kekayaan kita secara murah ke negeri luar,” demikian Zulkarnain Jalil.
Sebagaimana diketahui, pemerintah mulai membatasi ekspor mineral berdasarkan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri yang diberlakukan resmi pada 12 Januari 2014. Tapi jika merujuk Permen ESDM Nomor 1 Tahun 2014, ternyata masih diberi ‘kelonggaran’ bagi beberapa mineral tertentu untuk bisa diekspor. Misalnya, bijih besi yang kadar minimum konsentratnya 62 persen dan pasir besi 58 persen.
Tapi, menurut Zulkarnain, daripada diekspor lebih baik dipertimbangkan pengolahan di dalam negeri demi memperbesar profit yang diperoleh Indonesia sebagai penghasil bijih besi.(dik)