Kampung China di Aceh Itu Peunayong

AJP.Com, Banda Aceh - Suara tabuh gendang menggema. Sorak riuh penonton pecah ketika tiga barongsai berdiri tepat di tengah penonton. Ada barongsai merah jambu, biru dan kuning meliuk-liuk mengikuti tabuhan gendang. Aksi barong ini mengundang decak kagum warga yang hadir.

Siang itu, ketiga barongsai tampil untuk memeriahkan perayaan tahun baru Imlek 2565 di belakang Vihara Sakyamunni Banda Aceh. Dengan lincah mereka meliuk-liuk di atas meja dan kursi. Barongsai merah jambu yang tampil pertama mampu mengambil semua jeruk yang terletak di depan vihara.

Usai barongsai pertama tampil, kemudian giliran barongsai kuning dan biru yang meliuk-liuk di depan penonton. Setelah menunjukkan aksinya beberapa saat, tepukan tangan penonton membahana. Mereka tersenyum dan pada akhirnya memberikan angpau kepada ketiga barong tersebut.

"Penampilan barongsai ini untuk menghibur warga," kata Ketua Umum Perkumpulan Hakka Banda Aceh Kho Khie Siong, Jumat (31/1/2014).

Pementasan barongsai itu menandakan jalinan persaudaraan dan toleransi yang kental di Peunayong, yang menjadi pecinannya di Aceh. Di kota yang terletak di pinggir Krueng Aceh itu, hidup beragam etnis dengan beragam agama dan kepercayaan. Belum pernah terdengar ada kericuhan antarumat beragama di sini.

Di dekat Vihara Buddha Sakyamuni terdapat dua vihara lainnya, yaitu Maitri dan Dewi Samudera. Ketiga vihara ini berdampingan dengan Gereja Protestan Indonesia bagian Barat. Di dekatnya lagi ada Gereja Methodist. Lalu, tak jauh dari situ, di ujung Jalan Panglima Polem berdiri megah sebuah masjid.

Hubungan antara Aceh dan China telah terjalin sejak abad ke 17 M. Saat itu para pedagang dari China silih berganti datang ke Aceh. Mereka ada pedagang musiman dan ada juga yang permanen.

Mereka tinggal di perkampungan China di ujung kota dekat pelabuhan. Rumah mereka berdekatan satu sama lainnya. Lokasi yang dulu digunakan etnis China sebagai tempat menurunkan barang sebelum didistribusikan kini dikenal dengan nama Peunayong.

Kata Peunayong sendiri berasal dari kata peu dan payong yang berarti memayungi, melindungi. Dalam sebuah hikayat disebutkan, Peunayong merupakan tempat Sultan Iskandar Muda memberikan perlindungan atau menjamu tamu kerajaan yang datang dari Eropa dan Tiongkok.

"Hubungan China dan Aceh memasuki masa harmonis ketika Laksamana Cheng Ho bermuhibah ke Kerajaan Samudera Pasai di utara Aceh pada 1415," tulis A. Rani Usman dalam bukunya berjudul Etnis Cina Perantauan di Aceh.

Dalam buku itu, Rani menulis, fase ketiga kedatangan warga Tiongkok ke Aceh terjadi pada 1875. Migrasi besar-besaran ini terjadi karena dibawa Belanda. Etnis China dipekerjakan sebagai budak di Aceh.

Sifat pekerja keras mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan di bidang niaga. Di Banda Aceh, seperti jamak di negara lain, etnis Tionghoa merupakan pedagang, pengusaha sukses.

Warga China di Banda Aceh merupakan generasi ke-4 atau ke-5 dari buyut mereka yang datang pada abad 19. Mereka adalah suku Khek, yang berasal dari Provinsi Kwantung, Tiongkok. Mereka belum bercampur dengan suku Kong Hu Cu, Hai Nan, dan Hok Kian.

"Penduduk China paling banyak tinggal di Peunayong," jelas Kho Khie Siong.
Hal itulah yang menyebabkan masyarakat Banda Aceh melabelkan Peunayong sebagai kampung China. Kota tua yang terletak empat kilometer dari utara Mesjid Raya Baiturrahman ini menyimpan mutiara pemikat hati, mutiara yang akan menjadi magnet bagi wisatawan lokal, nasional, maupun manca negara.

Kehidupan masyarakat etnis China dan suku asli Aceh terbilang harmonis. Mereka bisa bebas bersembahyang di Tapekong (Vihara) dan gererja maupun berniaga di Peunayong. Sebagai bukti masyarakat etnis Tionghoa dapat hidup berdampingan dengan masyarakat Aceh, di Peunayong berdiri vihara, masjid dan gereja.

Kho yang lahir dan dibesarkan di Aceh ini tidak pernah merasakan adanya tekanan dari masyarakat Aceh saat melaksanakan ibadah. Di Aceh, belum pernah ada keributan antara satu agama dengan agama lainnya.

"Tidak pernah ribut antara agama Islam dengan agama hindu, budha, dan kristen. Tidak pernah," jelas Kho beberapa waktu lalu.

Meskipun Aceh menerapkan syariat Islam, warga etnis Tionghoa tetap bebas melaksanakan ibadah di vihara maupun gereja. Untuk perayaan imlek tahun ini, ribuan warga etnis China melaksanakan ibadah di empat vihara yang ada di Banda Aceh. Mereka terlihat ada yang membakar dupa dan ada juga yang hanya melaksanakan ibadah tanpa membakar dupa.

"Di vihara ini ada sekitar 300 orang yang melaksanakan ibadah," kata ketua Vihara Sakyamuni, Eddy Aminata.

Menurut Eddy, jumlah umat Budis di Banda Aceh mencapai ribuan orang. Namun mayoritasnya yaitu beragama Budha. Keturunan warga China di Aceh, lanjutnya, ada yang beragama Islam, katolik maupun agama lainnya. "Perayaan Imlek ini termasuk dalam agama dan ada juga yang kami sebut sebagai Budha yang lahir hari ini yaitu budha kebahagiaan," jelasnya.
Sementara salah seorang warga Tionghoa, Hendry, mengatakan, ia sudah tinggal di Aceh sejak ia lahir. Masyarakat Aceh dan China saling berkunjung satu sama lain untuk membangun silaturrahmi.

"Kami saling bersilaturrahmi," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Vihara Dharma Bhakti Banda Aceh, Herman mengatakan, vihara Dharma Bhakti yang menjadi saksi kehidupan warga China di Aceh awalnya terletak di kawasan Ulee Lheue Banda Aceh. Namun akibat erosi, vihara itu kemudian dipindahkan ke Jalan T Panglima Polem, Peunayong Banda Aceh, Aceh.

"Sekitar tahun 70 vihara ini dipindahkan ke sini," ungkap Herman. (Det)