Ketua KPPA Aceh : PA targetkan 65 Persen Suara di Pemilu 2014

AJP.Com, Banda Aceh - DALAM lima tahun terakhir Partai Aceh menjelma menjadi kekuatan politik baru di Aceh.  Ini bisa dilihat dari perolehan kursi saat Pemilu 2009 lalu dan Pemilihan Kepala Pemerintahan Aceh 2012 lalu. Partai yang dilahirkan dari rahim para mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini di tingkat provinsi berhasil mengambil simpati pemilih. Ketua DPRA dan Gubernur – Wakil Gubernur Aceh merupakan kader Partai Aceh.
Itu bicara beberapa tahun lalu. Tentu akan berbeda  dengan Pemilu 2014. Terlebih kehadiran Partai Nasional Aceh (PNA) yang juga dibangun oleh mantan GAM dianggap publik akan menjadi batu sandungan bagi PA untuk mendulang sukses seperti periode lalu. Ancamannya bukan hanya PNA, Partai Damai Aceh (PDA) parlok hasil reinkarnasi dari Partai Daulat Aceh tentu telah belajar banyak dari kegagalan. Begitu juga dengan partai nasional,  mereka juga tidak ingin dipecundangi oleh partai lokal yang baru dua kali ikut Pemilu.
Nah, bagaimana strategi Partai Aceh untuk menghadapi Pemilu 2014 ini. Ikuti wawancara Ketua Komite Pemenangan Partai Aceh (KPPA) Kamaruddin alias ABU RAZAK,  Selasa (28/1) di kantor DPA Partai Aceh.  Berikut petikan wawancaranya. (Ajn)
Bagaimana persiapan partai Aceh menghadapi pemilu 2014?
Bagi kami partai Aceh Alhamdulillah semua siap, baik dalam umbul-umbul, peraga partai, logistik, semua tim kita dalam  kerjasama  semua dan diseluruh bagian Aceh kami sudah siap.
Sejak kapan melakukan persiapan ini?
Kita ancang-ancang sejak selesai  verifikasi, waktu itu kita sudah mempersiapkan calon-calon yang akan kita usung,   mulai dari pemilihan calon  sebelum mendaftar caleg kita sudah siap. Tapi  masalah tim pemenangan kita baru dua bulan ini,  namun kita sejak dulu sudah siap-siap, kedepan kita ada pesta demokrasi.
Setelah menang Zikir kita sudah menyusun strategi untuk menghadapi pesta demokrasi 9 April mendatang.
Bagaimana partai Aceh memilih Caleg?
Saat pemilihan caleg itu lama juga prosesnya,  pertama diseleksi dulu di wilayah masing-masing. Dan kita melilih sosok-sosok yang memiliki ideologi, karena  caleg partai Aceh harus memiliki ideologi,  dan kualitas caleg kami utamakan ideologi,  kemampuan, kalau cuma tidur di di DPR untuk apa.
Berapa total caleg yang DPRA yang kita usung?
Semuanya ada 97 orang, dan caleg yang incumbent itu lebih kurang ada 17 orang.
Bagaimana dengan caleg perempuan?
Kalau soal perempuan itu mencapai 48%, bukan 30 %,  contohnya begini, ada satu dapil dibutuhkan  6 kursi  seperti di Takengon tujuh orang , itu terbagi empat laki-laki dan tiga perempuan.  kita dari partai Aceh memberi hak untuk perempuan, Alhamdulillah perempuan yang ada bukan hanya untuk memenuhi kuota 30 5 saja, melainkan yang memang sudah mantap.
Lalu berapa kursi yang ditargetkan PA, baik untuk DPRA maupun DPRK?
Kita memasang target minimal bisa meraih kursi 65 persen, itu baik DPRK maupun DPRA, kalau boleh lebih Alhamdulillah. Kalau bisa sampai 80%. Kita doakan  semoga rakyat Aceh memilih partai Aceh seperti 2009 lalu,  walaupun berat tapi bisa meraih 33 kursi, tapi apalagi kita hari ini di parlemen kita sudah memiliki kader yang akan memudahkan untuk meraih itu.
Apa strategi  PA untuk mencapai target itu?
Kalau berbicara masalah strategi semua partai mempunyai strategi, kami punya komitmen bahwa partai lokal satu-satunya partai Aceh,  itu diakui atau tidak.  Walaupun ada  beberapa partai lokal lain di Aceh ya silahkan saja. Tapi kita harus melihat dari dasar, dari MOU, siapa yang membuat partai lokal ini. Dan bangsa Aceh pasti tau. Kita dari ujung peluru menstop lalu  maju kepolitik.
Sekarang motor politik Aceh adalah partai Aceh. Itu merasakan semua, walaupun di daerah-daerah masih menakut-nakuti.  Dan alhamdulillah sudah mulai membaik.
Apa yang membuat partai Aceh itu beda?
Orang Aceh sendiri bisa melihat , kalau partai nasional  ini sejak merdeka Indonesia dulu sudah ada,  tapi tidak dapat merubah apapun, tapi dalam waktu dekat ini Partai Aceh dapat meraih beberapa  poin  yang  manfaatnya dirasakan rakyat Aceh seperti JKA, Bantuan anak yatim  dan lainnya.
Lalu?
Di lapangan  dalam bertanding itu semua partai sama,  Bagi saya, sebenarnya dalam bertanding itu sama. Tidak kita anggap partai terlu hebat, dalam pesta demokrasi itu sama.
Masalah ada yang mencurigai akan konflik dengan PNA bagi kami tidak ada, tidak ada urusan, kita sudah hadapi dari dulu. Waktu itu ada 6 partai lokal di Aceh Sira itu partai yang berbobot tapi tumbang juga.  Hari ini partai lokal itu ada 3, PDA dan PNA itu bagi kami biasa saja, tidak menganggap lebih-lebih.
Kalau Parnas?
Itu saya kira lebih parah dengan partai lokal.  Seperti Golkar dan Demokrat mereka sudah ada daftarnya. Kalau PNA itu baru seumur jagung,  bagi saya tidak jadi masalah, kadernya kita kenal, dilapangan juga kita tau,  kita tidak fokus untuk PNA saja tapi semua. Karna kadang-kadang yang kuasai Aceh itu Golkar, itu yang saya hadapi, dia mana ada kuasa sekarang, sekarang Aceh ini yang pegang merah dengan kuning, itu yang saya pikirkan, kalau masalah PNA satu camat pun tak dikuasai apa susahnya.
Dengan begitu anda melihat Parnas sebagai pesaing kuat?
Itu yang saya pikir sekarang,  misalnya di sini kota Banda Aceh Demokrat pegang. Kalau dibagian tengah itu, 4 atau pun 6 kuning. Itu yang harus kami pikirkan. Yang jadi saingan itu beberapa parnas bukan PNA. 
Bagai mana peran polisi dalam Pemilu?
Waktu dulu memang kita melihat bukan pembiaran, tapi itulah. Mungkin waktu itu polisi masih melihat bagaimana untuk partai Aceh kita tidak tahulah.
Mungkin dia takut juga kan kita dari pemberontak? Mungkin polisi atau TNI ini melihat partai Aceh itu lain. Tapi sekarang sudah cair. Dulu di Singkil tidak boleh berkibar bendra partai Aceh, Takengon, PETA lawan dengan masyarakat mengataskan nama bela negara, dia kira kita bukan orang bela negara. Tapi hari ini sudah bekersama, sudah minum kopi bersama, anggota PETA sudah bersama PA.
Kita komitmen yang penting damai Aceh, UUPA kita hormati, apa yang belum selesai diselesaikan.
Terakhir,  harapan anda dari Pemilu kali ini?
Harapan kami Partai Aceh bagi kami harus mendapat kursi 65 persen. Agar  pemerintah dan legislatif itu seirama dan sejawat itu lebih mudah. Kalau eksekutif dari PA behitu legeslatif program-program akan mudah digarap. []