Mahasiswa UGL Kutacane Minta Rektornya Segera Mundur

AJP.Com, Banda Aceh – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) Universitas Gunung Leuser (UGL) Kutacane, Kecamatan Babusssalam, Agara, Selasa (28/1/2014) menggelar aksi demo di kampus. Mereka menuntut rektor segera mundur, seiring biaya perkuliahan yang ditetapkan dinilai terlalu mahal, sehingga memberatkan para mahasiswa.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB diwarnai dengan pembakaran ban, sehingga asap tebal sempat membumbung tinggi di atas area kampus. Mereka juga mengusung berbagai poster, diantaranya bertuliskan: “Copot Rektor UGL, Prof Dr Hasnudi MS.”

Mereka juga menuntut biaya yudisum, uang seminar, biaya kuliah kerja nyata (KKN), KPM, PPL dihapus. Mereka juga mempersoalkan biaya SPP yang terlalu mahal dan biaya kutipan lainnya yang dinilai tidak jelas, sehingga memberatkan para mahasiswa dan mempersoalkan jabatan pihak rektorat, dosen yang rangkap jabatan dari jajaran pemerintah, seperti Kabag, kepala dinas, dan kepala sekolah serta lembaga independen.

Dalam aksinya, mahasiswa juga sempat menyegel kampus, melakukan sweeping ruang kuliah untuk mengajak mahasiswa yang sedang belajar bergabung, serta melempari ruangan kerja rektorat dengan botol air mineral dan telur busuk.

Presma UGL Kutacane, Zuliadin Berutu, dalam orasinya mengatakan: “Banyaknya dosen yang merangkap jabatan, sehingga mahasiswa dinomorduakan.” Dia menyorot biaya yudisium, seminar, wisuda, KRS, KHS, KTM, PPL bagi FKIP, KK/KPM dan biaya lainnya yang semuanya memberatkan mahasiswa.

Belum lagi fasilitas laboratorium dan lab komputer tidak lengkap, termasuk mobiler kuliah. Dia juga menyinggung tentang keamanan di area kampus, karena sejumlah sepeda motor hilang. Zuliadin juga menyorot beasiswa bagi yang tidak mampu, karena dinilai tidak tepat sasaran alias sarat kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN), sehingga  perlu dievaluasi kembali.

“Beasiswa seharusnya diberikan kepada mahasiswa yang  benar-benar berasal dari keluarga tidak mampu,” ujarnya. Selain Presma UGL juga Tri Jasa Taufik, Eka Prasetyo Ketua Bem Fakultas Ekonomi, Ferianto Wibowo, berorasi bergiliran menggunakan mikrophone.

Mereka  meminta semua kebijakan di kampus yang memberatkan mahasiswa/I harus dibatalkan karena sangat memberatkan mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu.  Mereka juga mempersoalkan kegemukan struktural birokrat yang menyebabkan pemborosan anggaran dan pengelolaan keuangan tidak transparan.

Para mahasiswa itu memintara aparat penegak hukum mengaudit anggaran yang dikelola UGL Kutacane, baik yang bersumber dari mahasiswa maupun pemerintah serta Kopertis. Para demonstran yang notabene mahasiswa itu akhirnya membubarkan diri dengan tertib. (ar)