Mantan Gubernur DKI Jakarta, Doakan agar Jokowi Agar mendapatkan Petunjuk Allah SWT

AJP.Com, Banda Aceh - Mantan Gubernur DKI Jakarta dua periode selama pemerintahan 5 presiden, Sutiyoso meminta maaf kepada Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi)  karena dianggap tidak bekerja selama memimpin Jakarta. Sutiyoso mendoakan agar Jokowi selalu mendapatkan petunjuk Allah SWT dan sukses memimpin Ibukota Negara.

“Saya atas nama pendahulu minta maaf kalau ada kesalahan-kesalahan dalam memimpin DKI Jakarta. Semoga beliau selalu mendapatkan petunjuk Allah SWT dan sukses memimpin Ibukota Negara,” ujar Sutiyoso dalam pesan singkatnya yang dikirimkan dalam kunjungannya di Aceh, Minggu (19/1/2014).

Sutiyoso  sendiri enggan menjawab lebih jauh mengapa dirinya yang dianggap salah satu gubernur yang sukses dan tegas dalam memimpin Jakarta, bisa dianggap tidak bekerja dengan baik oleh Jokowi.

“Saya sedang di Aceh dan mohon maaf saya tidak mau berkomentar lebih jauh,” tambahnya.

Sebelumnya Jokowi menyalahkan para pendahulunya, terkait masalah banjir di Ibu Kota. Mereka yang telah memimpin Jakarta antara 20 hingga 30 tahun dinilai Jokowi tak berbuat apa-apa.

"Saya baru setahun, yang 20 tahun yang 30 tahun memimpin Jakarta sudah apa?" ujar Jokowi kepada wartawan.

Namun Jokowi tidak mau menjelaskan lebih jauh apa apa saja kesalahan para gubernur terdahulu. Ia hanya mengatakan, masalah yang ada sekarang imbas masalah bertahun-tahun lalu. "Ini imbas dari yang dulu," ucapnya.

Jokowi mengatakan, untuk persoalan banjir, pihaknya sudah melakukan pengamatan pada lokasi genangan air di jalan-jalan di Ibu Kota. Untuk perbaikan tanggul juga sedang dikerjakan Pemprov DKI Jakarta seperti di Waduk Pluit dan juga Waduk Ria Rio, Waduk Ciracas, dan Waduk Tomang, Jakarta Barat.

"Perbaiki tanggul, kan sudah kita keruk semuanya. Dulu yang tergenang mana, yang tidak mana," katanya.

Seperti diketahui Sutiyoso adalah salah satu gubernur yang sukses memimpin Jakarta. Gebrakannya untuk membuat mass rapid transportaion yang ditandai dengan dibangunnya busway dan juga dimulainya pembangunan Banjir Kanal Timur. Selama kepemimpinannya Sutiyoso juga sudah banyak membangun jalan layang maupun underpass di Jakarta untuk  mengurangi dampak kemacetan.

Sutiyoso pula yang mengusulkan untuk merubah  status Jakarta dari metropolitas menjadi megapolitan. Konsepnya ini menurut Sutiyoso bukan dirinya yang membuat tapi merupakan kajian-kajian akademis dari para pakar bahwa Jakarta tidak mungkin bisa mengatasi permasalahannya sendirian.

Berbagai konsep yang dikembangkan Sutiyoso kemudian dilanjutkan oleh pemerintahan setelahnya termasuk oleh Jokowi yang meneruskan proyek mass rapid transportaion dengan melanjutkan proyek monorail.

Jokowi sendiri beberap kali mencetuskan ide untuk mengurangi kemacetan namun gagal dilaksanakan seperti pembantasan kendaraan bermotor dengan ganjir genap, dan upaya penerapan road pricing yang menurut Sutiyoso sendiri sulit dilakukan dan sudah dikajinya. (Sar)