Gubernur Aceh Komitmen Bangun Lintas Tengah

Redelong - Gubernur Aceh Zaini Abdullah menyatakan komitmen untuk mengutamakan pembangunan wilayah tengah Aceh termasuk di antaranya pembangunan ruas jalan tembus dari Aceh Utara menuju Kabupaten Bener Meriah, yang merupakan ruas jalan eks KKA sehingga dapat membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat yang kaya akan sumber daya alam.

Hal itu diungkapkan Gubernur Aceh ketika menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Tugu Radio Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Sabtu (22/2/2014).

Komitmen untuk membangun poros tengah oleh Pemerintah Aceh juga seiring dengan program Pemerintah Pusat."Program pembangunan poros tengah, sudah mulai dicanangkan. Termasuk presiden SBY juga mendorong agar pembangunan poros tengah agar lebih didahulukan," kata Zaini Abdullah.

Disamping itu, lanjut Gubernur, mulai difungsikannya pelabuhan Krueng Guekueh Aceh Utara juga bisa membantu meningkatkan ekonomi masyarakat di wilayah tengah.

Sehingga dengan adanya program pembangunan ruas jalan Bener Meriah-Aceh Utara, semua hasil bumi dari Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, seperti kopi, kentang dan sayur mayur bisa diekspor dari pelabuhan Krueng Guekueh. "Ini merupakan salah satu upaya membangkitkan ekonomi masyarakat di wilayah tengah ini," ujarnya.

Di hadapan ratusan masyarakat Pintu Rime Gayo, Gubernur juga memaparkan sejumlah program Pemerintah Aceh sebagai bentuk komitmen terhadap pembangunan tengah Aceh di bidang sosial, kesehatan dan pendidikan. Menurut Gubernur,  Pemerintah Aceh sama sekali tidak pernah berpihak kepada daerah tertentu dalam merancang kebijakan pembangunan di daerah.

"Semua diperlakukan seimbang. Malah, untuk APBA 2014 ini, anggaran pembangunan infrastruktur lebih banyak diarahkan ke wilayah tengah ini. Tidak ada istilah anak tiri dan anak kandung. Di mata saya semua sama, inilah yang akan kita buktikan," sebutnnya.

Dalam kesempatan itu Zaini Abdullah sedikit mengupas soal keberadaan Tugu Radio Rimba Raya (RRR) di Bener Meriah. RRR, dikatakan Gubernur, sangat berperan besar dalam memberitakan keutuhan NKRI  saat Indonesia dibombardir oleh Belanda. Jika bukan karena siaran Radio Rimba Raya ini, mungkin Indonesia sudah tidak ada karena Belanda telah menguasai berbagai wilayah negeri ini.

Melalui RRR, disampaikan kepada negara-negara luar terutama semenajung Malaya bahwa Indonesia masih ada. RRR saat itu mengudara dalam keadaan darurat, dipancarkan dalam berbagai bahasa internasional, hingga menjadi perbincangan di dunia. Berkat siaran itu pula, PBB menolak klaim Belanda dan memaksa Belanda berunding dengan Pemerintah Indonesia melalui perundingan yang dikenal dengan nama Perundingan Meja Bundar.

Setelah perundingan berlangsung, jelas Zaini, akhirnya Belanda mundur dari Indonesia. Siaran Radio Rimba Raya dihentikan setelah perjuangannya gerakan revolusi membawa hasil.

Untuk mengenang jasa radio ini, pada 27 Oktober 1987, Pemerintah mendirikan monumen Tugu Radio Rimba Raya yang sekarang berdiri kokoh di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.