Intruksi Bupati Diabaikan, Petani Di Krueng Teukuh Naik Rakit Masih Bayar


AJP.Com, Blangpidie - Niat baik Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Ir Jufri Hasanuddin MM untuk membantu masyarakat dan meringankan beban para petani di kawan Krueng Teukuh ternyata di abaikan oleh bahwaannya. 

Pasalnya, Hasil yang didapatkan wartawan di kawasan Jembatan Krueng Teukuh, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) Rabu (5/2/2014) sangat menyedihkan, hingga memasuki bulan Februari 2014, rakit bantuan penyeberangan para petani yang pernah dijanjikan oleh pemerintah daerah hingga kini belum terealisasi.

Padahal, beberapa bulan yang lalu Bupati Abdya Ir Jufri Hasanuddin MM sudah mengintruksikan kepada Sekda Drs Ramli Bahar untuk segera membuat rakit sebagai sarana penyeberangan. Agar para petani yang memiliki lahan dikawasan setempat mudah untuk menuju ke wilayah perkebunan.

“Saya perintahkan Sekda untuk segera membuat rakit sebagai tanggap darurat di lintasan sungai Krueng Teukuh, agar lebih meringankan beban para petani sawit untuk menuju keperkebunan. Kalau hal tersebut tidak dilaksanakan segera, jabatan Sekda taruhannya” Hal tersebut, ditegaskan Bupati Abdya Jufri Hasanuddin dihadapan puluhan massa yang terdiri dari unsur mahasiswa dan masyarakat petani saat demontrasi pada tanggal 4 Desember 2013 lalu.

Namun, apa dikata niat baik dari Bupati membuat rakit dibantaran sungai Krueng Teukuh sebagai sarana penyeberangan sementara bagi masyarakatnya, terkesan di abaikan (anggap angin lalu). Buktinya, saat wartawan turun dilapangan hingga saat ini masyarakat petani setempat masih mengunakan rakit tua milik pribadi salah seorang warga. Bukan rakit bantuan dari pemerintah.

“Rakit ini kepunyaan pribadi saya. sedangkan rakit lama bantuan Pemkab dulu sudah hanyut sekitar satu tahun yang lalu. Sejak itulah saya buat rakit ini, karena saya memiliki kebun sawit diseberang sungai sana,” ungkap Buyung yang didampingi istrinya Rabu (5/2/2014) di warung kopi miliknya yang berada di lokasi penyeberangan rakit Krueng Teukuh itu.

Saat wartawan menyinggung tentang keberadaan rakit bantuan dari Pemkab Abdya, Buyung didampinggi istrinya mengaku tidak tau, karena, selain rakit miliknya tidak ada lagi rakit lain yang beroperasi di bantaran sungai Krueng Teukuh.

“Kalau di sini tidak ada rakit bantuan pemerintah, yang ada cuma rakit kami itu, dulu ada tapi sekarang tidak dipakai lagi karena sudah rusak,” ungkap Istri Buyung yang kebetulan sedang membuatkan kopi yang dipesankan oleh beberapa orang tamu yang singgah di warkopnya untuk ngopi.

Lebih lanjut, istri Buyung menceritakan, bahwa beberapa waktu lalu, kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Abdya, pernah mendatangi warkop dirinya dan menanyakan siapa pemilik rakit tersebut. “Dulu ada datang pak Yusbar kemari menanyakan siapa kepemilikan rakit ini, terus saya jawab kalau rakit itu milik saya. Setelah itu ia menyuruh buat permohonan bantuan rakit, kami heran untuk apa kami buat permohonan, sementara kami punya rakit sendiri,” ungkap istri Buyung itu didepan petani sawit dan para tamu tadi.
Wandi, Salah satu pengemudi rakit saat ditanya oleh wartawan berapa tarif yang diambilnya. Ia mengatakan ongkos jasa penyeberangan itu bervariasi dan tergantung kendaraan. Ongkos sebesar Rp. 2 ribu untuk jasa penyeberangan sepeda motor. Sedangkan untuk ongkos Rp. 5 ribu itu bagi becak kosong. Sedangkan becak yang memiliki barang, itu dikenakan tarif Rp. 10 ribu.

“Tarif itu kami ambil bagi yang punya kendaraan, sedangkan perorangan kami tidak ambil ongkosnya,” ujarnya sambil menambahkan, kalau dirinya itu hanyalah pekerja, sedangkan pemiliknya adalah Buyung. “Saya bekerja pada bang Buyung, karena rakit ini milik dia” ungkap pengemudi rakit itu sambil mengatakan hingga tengah malam masih mengoperasikan rakit karena banyaknya sewa.

Syarifuddin, petani singkong warga Gampong Teungoh, Kecamatan Kuala Batee, saat di wawancarai wartawan mengaku sedih, betapa tidak, selain harga singkong saat ini sangat murah. Ia seiap hari terpaksa harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 6 ribu untuk jasa penyeberangan.

“Kami merasa sedih, mau ke kebun harus ada uang Rp. 6 ribu untuk ongkos rakit. Bila kami tidak memiliki uang, otomatis kami tidak bisa kekebun, kalau kami perginya lewat Babahrot atau lewat PT Cemerlang Abadi jauh sekali, bahkan lebih banyak lagi habis uang untuk beli BBM,” ungkap petani itu.

Dia juga meminta kepada pemerintah untuk segera membangun jembatan Krueng Teukuh yang sempat berhenti pengerjaannya. “Kami berharap kepada Bapak Bupati agar segera membangun jembatan ini, Karena jembatan ini sangat kami butuhkan,” harapnya. (putra)