ARB Sosok Yang Bisa Imbangi Jokowi dan Prabowo


Jakarta - Pemilihan Presiden (Pilpres) 9 Juli mendatang diprediksi hanya diikuti tiga pasangan capres-cawapres. Kondisi ini disebabkan perebutan suara yang begitu ketat dalam Pemilihan Legislatif 9 April kemarin.

"Joko Widodo (Jokowi), Prabowo Subianto, dan Aburizal Bakrie (ARB)," sebut Direktur Riset Jaringan Suara Indonesia (JSI) Eka Kusmayadi saat dihubungi di Jakarta, Jumat (11/4/2014).

Menurut dia, sosok ARB bisa menjadi kunci dalam Pilpres 2014 untuk mengimbangi majunya Jokowi dan Prabowo.

"Golkar sedang galau. Banyak faktor penyebabnya, salah satunya internal yang dikaitkan dengan hasil hitung cepat Pemilihan Legislatif kemarin," kata Eka.

Karena itu, ARB harus menyelesaikan persoalan di internal Golkar dengan cepat untuk memuluskan pencapresannya. Lantaran, kendala utama yang dihadapi ARB saat ini justru di internal partainya sendiri.

Mengenai pasangan yang cocok bagi ARB, Eka mengusulkan sebaiknya tokoh yang populer dan mempunyai basis massa yang jelas. Hal ini untuk menutupi kekurangan dukungan suara yang diperoleh Golkar saat ini.

"Untuk Golkar bisa menggandeng partai papan tengah, seperti Demokrat, PKB, PAN, PKS, dan Hanura. Beberapa sosok yang dapat mendorong ARB menjadi cawapres diantaranya Dahlan Iskan dan Mahfud MD," ungkapnya.

Sementara, untuk Prabowo Subianto memang tidak mempunyai masalah di internal partainya. Namun, mantan danjen Kopassus TNI-AD ini memiliki masalah dalam popularitas dan elektabilitas sebagai capres. Karenanya, Gerindra butuh koalisi dengan partai yang mempunyai suara kuat untuk mendorong Prabowo.

"Gerindra sepertinya sudah berkomunikasi dengan Demokrat dan PPP. Bila ini terjadi akan jadi kekuatan untuk mendorong Prabowo menjadi capres. Untuk sosok pendamping di antaranya Abraham Samad, Jusuf Kalla dan Hatta Rajasa. Ketiganya dianggap bisa saling melengkapi dan sesuai dengan karakter kepemimpinan Prabowo," jelas Eka.

Sedangkan Jokowi yang kini masih menjabat gubernur DKI Jakarta menjadi figur paling populis dan mempunyai elektabilitas tinggi dibanding Prabowo dan ARB. Namun, kekurangannya adalah tidak memahami ekonomi makro nasional, sistem pemerintahan, dan sikap yang cenderung egaliter.

"PDIP harus berkoalisi dengan partai papan tengah untuk membulatkan suara. Partai yang nampaknya cocok diantaranya Nasdem, PKB dan partai tengah lain. Bahkan memungkinkan untuk merangkul yang papan bawah," kata Eka.

Calon pasangan bagi Jokowi yang bisa dianggap bisa saling melengkapi antara lain seperti Jusuf Kalla dan Hatta Rajasa.

"Selain itu saya dengar ada nama Ryamizard Ryacudu. Sosok ini bisalah untuk mengimbangi gaya Jokowi yang sangat egaliter," jelasnya.

Lebih jauh, pasangan yang sudah lebih dulu mendeklarasikan diri yakni Wiranto dan Harry Tanoesoedibjo ditengarai batal ikut Pilpres mendatang. Pasalnya, berdasarkan perolehan suara sementara, Partai Hanura sebagai kendaraan politik pasangan ini hanya mendapat dukungan suara sekitar lima persen.
"Kalau mau maju, WIN-HT itu nekat, resikonya sangat besar. Bukan hanya harus mengumpulkan koalisi yang besar. Pasangan ini juga harus menggenjot popularitas dan elektabilitas," demikian Eka.[Rmo]