Pihak Asing Di Duga Terlibat Kebakaran Lahan Gambut Rawa Tripa




Jakarta
- Adanya intervensi pihak asing dalam kebakaran lahan di Rawa Tripa di Provinsi Aceh semakin menguat. Hal itu terungkap dari kesaksian Farwiza, anggota LSM Hutan Alam dan Lingkungan Aceh dalam sidang perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (21/4/2014) lalu.

Dalam kesaksiannya, Farwiza mengaku sempat mendokumentasikan peristiwa kebakaran lahan, baik dari udara maupun di lokasi kejadian. Dia juga sempat menunjukkan rekaman video kebakaran yang terjadi pada 27 Maret 2012 lalu. Dalam video itu tergambar lebih dari tiga titik api. Sementara dalam berkas gugatan disebutkan hanya terdapat satu titik api.

Atas penjelasan saksi, pengacara PT Surya Panen Subur, Tri Moelja D. Soerjadi mencurigai keterlibatan pihak asing dalam kasus tersebut.

"Patut diduga bahwa ada kepentingan asing di dalam perkara ini," ujarnya melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (23/4/2014).

Dia menuturkan, keterlibatan pihak asing juga disorot oleh DR. Suwardi dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Institut Pertanian Bogor (IPB). Di mana, dia menyebut bahwa Rawa Tripa telah ditetapkan statusnya melalui Peraturan Menteri Kehutanan sebagai area penggunaan lain (APL).

"Jika ada sekelompok orang yang ingin mengubah kawasan tersebut menjadi daerah konservasi, saya duga ada motif lain di balik rencana tersebut. Apalagi ingin mengembalikan perkebunan kelapa sawit menjadi hutan," jelas Tri Moelja.

Aksi pembakaran lahan disponsori pihak asing yang memiliki kepentingan ekonomi dengan membiayai lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dengan maksud produksi sawit di Indonesia tidak terus meningkat sehingga dapat menyaingi produksi negara lain.

"Mereka khawatir dengan perkembangan laju produksi minyak sawit Indonesia. Berbagai cara mereka lakukan, seperti dengan membiayai LSM di Rawa Tripa untuk mengubah kawasan APL menjadi kawasan konservasi," beber Tri Moelja.

Dia melanjutkan, sebagai negara berdaulat Indonesia harus menolak cara-cara asing yang menghambat perkembangan perkebunan kelapa sawit Indonesia. Sebaliknya, di saat Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan, pemerintah harus mendorong berbagai produk unggulan sebagai produk ekspor seperti minyak dari perkebunan kelapa sawit. Sebagaimana yang dikelola PT Surya Panen Subur saat ini.

"Produk minyak sawit juga dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produk biodisel sehingga dapat mensubstitusi impor bahan bakar minyak," ujar Tri Moelja. {rmol.co}