Staf Khusus Presiden : Kebohongan Jokowi Cs Dilakukan Secara Sistematis


Jakarta - Pemberitaan mengenai mantan tim sukses Joko Widodo saat pilwalkot Solo, Michael Bimo Putranto, yang diduga ikut "bermain" dalam kasus dugaan korupsi pengadaan bus TransJakarta semakin marak. 

Pasalnya, dugaan korupsi yang mengakibatkan kerugian keuangan negara hingga Rp 3,8 miliar itu selalu dikaitkan dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, yang juga capres dari PDIP. Namun sayang, mantan Walikota Solo itu beserta jajaran petinggi PDIP membantah mengenal Bimo Putranto.

Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Andi Arief menganggap bantahan petinggi partai banteng moncong putih itu sebagai kebohongan yang sistematis. Andi bahkan menjabarkan beberapa pertemuan antara petinggi PDIP dengan Bimo Putranto dalam beberapa acara.

Seperti contoh saat Puan Maharani hadir dalam apel siaga PDIP menghadapi pemenangan Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jateng pada 14 April 2013 di Manahan, Solo, Jateng. Dalam kesempatan itu, putri Megawati tersebut bertindak sebagai inspektur upacara dengan komandan upacara Bimo Putranto, yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua DPD PDIP Jateng Bidang Pemuda. Hadir juga dalam acara tersebut Tjahjo Kumolo dan Ganjar Pranowo.

Sementara Jokowi merupakan rekan baik Bimo Putranto di Jawa Tengah. Pasalnya, kedua orang tersebut sama-sama menjabat sebagai wakil ketua dalam jajaran kepengurusan DPD PDIP Jateng periode 2005-2010. Jadi dapat disimpulkan bahwa Jokowi, Puan Maharani, Ganjar Pranowo, dan  Tjahjo Kumolo sangat mengenal Bimo Putranto. 

"Jokowi harus menyudahi kebiasaan berbohongnya. Dia boleh rapopo tapi rakyat rabodoh," ujar Andi Arief.

Lebih lanjut Andi berharap agar KPK bisa segera mengusut keterlibatan Jokowi dalam kasus pengadaan bus TransJakarta. Hal ini bertujuan agar masyarakat tahu siapa sebenarnya Jokowi dan sandiwara PDIP tidak menjadi masalah di kemudian hari. 

"Semoga KPK bisa bertindak, meski hati kecil saya menyatakan belum tentu berani," tandasnya. (RMO)