Begini Cara Polisi New York Mengintimidasi Muslim


Kepolisian Kota New York (NYPD) merekrut para imigran untuk menguping pembicaraan warga di sejumlah tempat seperti kafe, restoran, dan masjid.

Program intelijen ini dilancarkan lembaga tersebut selama bertahun-tahun setelah peristiwa penyerangan gedung World trade Center (WTC) pada 11 September 2001 silam.

The New York Times melaporkan, sebagian besar dari imigran yang direkrut menjadi mata-mata itu adalah Muslim. Di antaranya adalah penjual makanan gerobak asal Afghanistan, seorang sopir limusin kelahiran Mesir, dan mahasiswa akuntansi dari Pakistan.

Ironisnya, kebanyakan dari mereka justru kemudian ditangkapi polisi karena melakukan pelanggaran kecil.

Semua informasi di atas diperoleh surat kabar tersebut dari sejumlah dokumen ditambah hasil wawancara mereka dengan mantan dan pejabat senior kepolisian New York.

Deputi Komisioner Divisi Intelijen NYPD, John Miller mengatakan, instansinya membentuk sebuah tim khusus untuk menjalankan program kontraterorisme menyusul serangan 11 September.

Di antara tugas mereka adalah menggali informasi sebanyak mungkin terkait kegiatan yang mungkin berhubungan dengan terorisme. Salah satunya dengan merekrut mata-mata dari kalangan warga sipil.

“Dari situ, kami mencari orang-orang yang bisa memberikan visibilitas ke dalam dunia terorisme. Anda tidak akan mendapatkan informasi tanpa berbicara langsung dengan masyarakat,” kata Miller seperti dikutip Times.

Menurut Miller, teknik tersebut cukup efektif diterapkan dalam menangkal terorisme.

Namun, surat kabar Times menyebutkan, banyak imigran Muslim yang dijadikan mata-mata mengaku merasa diintimidasi, sehingga mereka seolah-olah tidak punya banyak pilihan selain untuk bekerja sama.

Dalam satu contoh, Bayjan Abrahimi, penjual makanan gerobak asal Afghanistan ditangkap polisi pada 2009 lantaran sengketa soal karcis parkir.

Sesudah itu, ia ditanyai tentang jaringan Al Qaida, kegiatan umat Muslim di masjid, dan hal-hal lainnya.Pada akhirnya, polisi pun bertanya kepada Abrahimi apakah dia bersedia untuk mengumpulkan informasi di masjid dan mungkin melakukan perjalanan ke Afghanistan.

“Karena takut, aku pun terpaksa menyetujuinya,” ujar Abrahimi. (*times/rol)