Merasa Paling Benar, Lembaga Survei Telah Mendahului Tuhan



Jakarta - Adanya lembaga survei yang mengklaim hanya hitung cepatnya yang paling benar, dan hasil hitung cepat lembaga lain semuanya salah, adalah lembaga survei arogan.

"Pernyataan tersebut sangat arogan karena merasa paling benar dan anti terhadap perbedaan. Pernyataan tersebut mendahului kehendak Tuhan," ujar Iswandi Saputra, seorang pengamat politik dari UIN Sunan Kalijaga, Jumat (11/7/2014).

Katanya, hasil hitung cepat bisa saja benar tapi tidak akurat. Atau bisa saja hasilnya tidak benar dan tidak akurat.

Menurut Iswandi, ada banyak hasil hitung cepat yang dilakukan tidak benar dan tidak akurat. Misalnya pilpres 2004 saat TVRI bekerja sama dengan Institute for Social Empowerment and Democracy melakukan hitung cepat.

Ketika itu, hasil hitung cepat dua lembaga itu menyebut Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi menang tipis 50,07 persen dari Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) yang mendapat 49,93 persen.

Tetapi, berdasarkan perhitungan resmi KPU, Megawati-Hasyim ternyata kalah. Karenanya, dia mengimbau masyarakat untuk tidak langsung percaya pada hitung cepat, yang di khawatirkan berujung kekecewaan.

"Hitung cepat tapi hasilnya belum tentu akurat dan tepat. Mereka yang mengklaim hitung cepat paling benar itukan dibayar mahal. Jangan arogan merampas kewenangan KPU. Serahkan semua soal penghitungan suara pada KPU. Biarkan mereka bekerja dengan tenang," tegasnya. {republika}