Ingin Jual Pesawat Kepresidenan, Nasionalisme PDI-P Diragukan




Jakarta - Dengan alasan untuk menghemat anggaran negara, seorang politisi dari partai PDI-P Maruarar Sirait, melontarkan usulan terbaru, yakni agar Jokowi menjual pesawat kepresidenan.

Padahal, pesawat kepresidenan justru di beli guna menghemat anggaran perjalanan dinas presiden yang terlalu besar gara-gara selalu menyewa pesawat.

Maruarar berdalih, efisiensi adalah hal pertama yang harus dilakukan pemimpin. Jika pemimpin masih berfoya-foya dengan kemewahan maka rakyat juga tidak akan mau melakukan penghematan.

"Efisiensi rakyat juga harus lihat seperti pengurangan anggaran perjalanan dinas. Ke depan saya usulkan pesawat presiden dijual saja, ini untuk efisien. Protokoler dikurangi dan ini memberi contoh. Pemimpin tidak sederhana bagaimana orang bisa sederhana," ucap Ara dalam diskusi di Hotel Pullman, Jakarta.

Di tanyakan hal tersebut, Jokowi terlihat kaget. "Kata siapa (mau dijual)? Dijual ke siapa?" tanya Jokowi.

Jokowi keheranan, sebab pesawat itu baru saja didatangkan pada April lalu. "Masih baru kok mau dijual," ujar nya.

Tabiat gemar menjual aset negara bukan lah hal yang aneh bagi PDI-P. Pada 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri yang juga ketum PDI-P memutuskan untuk menjual satelit Indosat kepada Singapura, dengan alasan minim nya kas negara.

Ketua DPP PAN Didik Junaidi Rachbini menilai, nasionalisme dapat diukur dari kebijakan saat memerintah. PDIP selalu menjual kata nasionalisme dalam setiap kesempatan pemilu.

Dia menyatakan, nasionalisme PDIP patut dipertanyakan ketika saat Mega menjadi presiden menjual aset negara. Meskipun pada saat itu PDIP beralasan, Indonesia sedang mengalami krisis.

"Krisis, kita bangkrut, menjual aset itu dianggap nasionalis atau tidak, pertimbangannya bisa 50-50," kata Didik.

Pengamat ekonomi, Enny Sri Hartati, menyesalkan adanya wacana penjualan kepresidenan dari kubu Jokowi. Menurutnya, harapan rakyat kepada Jokowi justru adalah dia melakukan perubahan fundamental bukan penyelesaian masalah secara instan seperti itu.

"Kalau solusinya cuma menjual aset negara, ngapain kita pilih Jokowi kemarin," tegas nya. {merdeka}