Pengamat : Megawati Tidak Paham Demokrasi



Jakarta - Megawati Soekarnoputri nampaknya tidak terima dengan kekalahan demi kekalahan Koalisi Indonesia Hebat di parlemen. Lewat jejaring sosial Twitter, Mega meluapkan kemarahan, puncaknya disertai dengan ancaman tidak akan menahan aksi "people power".

Sikap Mega sangat disesalkan. Mega dinilai tidak paham demokrasi.

"Kalau betul itu pernyataan Mega, menurut saya, semakin menunjukkan kegagalannya memahami kompetisi (dinamika) dalam demokrasi dan fungsi partai politik yang dipimpinnya," ujar Pengamat politik dari UIN Jakarta, A. Bakir Ihsan.

Pernyataan Mega sama saja menampar muka sendiri. Munculnya persoalan anggota DPR yang kebal hukum, Pilkada oleh DPRD serta ketua dan wakil ketua DPR politisi busuk seperti disesalkan Megawati, menurut Bakir, justru menjadi bagian dari kegagalan dia sebagai Ketum PDIP dan kegagalan PDIP dalam membangun koalisi bersama partai-partai lain, yang paling tidak dalam persepsi Megawati, bersih atau tidak busuk.

"Apalagi dengan membiarkan people power, sama saja dengan menampar muka sendiri, karena partai, termasuk partai yang dipimpinnya gagal menjadi jembatan (linkage) antara masyarakat dan negara. Tapi saya tidak yakin Megawati menghendaki itu," ujar Bakir.

Dia menambahkan kegagalan PDIP dalam beberapa kontestasi di parlemen seakan mengulang kegagalannya pada 1999, karena ketergantungannya yang begitu kuat pada Megawati yang belum siap membuka diri pada semua partai.

Megawati punya modal besar untuk itu, selain sebagai pemenang dalam Pileg juga pemenang dalam Pilpres. Modal ini bisa menjadi pintu untuk komunikasi.

"Megawati walaupun partai dan capresnya menang, harusnya membangun komunikasi jemput bola, sehingga mereka yang kalah merasa diperhatikan. Terutama partai-partai yang memang masih membuka ruang untuk kerjasama, seperti PD, PPP, maupun PAN''. (rmol)