Banyak Mafia Petani 'Berkeliaran'

SLEMAN - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar menegaskan bahwa saat ini masih banyak mafia yang menjerat kalangan petani dengan mempermainkan harga kebutuhan pertanian dan perikanan.

"Mereka ini tidak saja mempermainkan harga pupuk, tetapi juga menguasai dan mempermainkan harga pakan ikan," kata Marwan Jafar saat "blusukan" di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis.

Marwan Jafar secara mendadak mengunjungi Dusun Japanan, Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman.

Dalam kunjungan ini, Marwan yang hanya ditemani beberapa staf langsung menuju rumah Ketua Kelompok Pembudidaya Gurameh Kecamatan Seyegan.
Kepada menteri, para petani ikan mengeluhkan kenaikan harga pakan ikan yang terus menerus terjadi.

Menurut salah satu petani ikan Subandi, sejak nilai tukar dolar terhadap rupiah terus naik, satu sak pakan ikan yang sebelumnya dijual dengan harga Rp170.000, saat ini ikut naik tinggi menjadi Rp280.000 per sak ukuran berat 30 kilogram.

"Kondisi ini dirasa menyulitkan petani ikan untuk berproduksi, karena biaya melonjak tajam sementara harga ikan tetap tidak bisa dinaikkan," katanya.

Menanggapi keluhan petani ikan terkait tingginya harga pakan ikan, Marwan menyatakan akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menekan harga pakan ikan.

"Kenaikan harga ikan ini akibat adanya mafia pakan ikan, mereka yang telah mempermainkan harga pakan ikan. Kami akan berkoordinasi dengan instansi lainnya untuk memangkas cara-cara distribusi seperti itu," katanya.

Menurut dia, kenaikan harga pakan ikan akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar sebenarnya sudah dikhawatirkan beberapa pihak, terutana Kementerian Kelautan dan Perikanan.

"Karena hingga kini sekitar 70 persen kebutuhan pakan ikan dalam negeri masih didatangkan melalui impor, terutama dari Chile, Vietnam, dan Tiongkok," katanya. Ia mengatakan, dalam satu tahun impor pakan ikan Indonesia mencapai 60.200 ton dengan nilai 74 juta dolar AS. (Rol)