Unsyiah Gelar Seminar Nasional Soal Lingkungan



Banda Aceh - Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mengadakan seminar nasional bertajuk Pengelolaan Sumber Daya Alam, Kehutanan dan Lingkungan Hidup di Provinsi Aceh yang berlangsung di Gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah pada Kamis 12/03, dengan menghadirkan dua pemateri seminar yaitu Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc (Kepala Badan Litbang Kementerian Kehutanan Republik Indonesia) dan Dr. Ir. Illah Sailah MS (Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ristek dan Ditjen Pendidikan Tinggi).

Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng yang membuka seminar tersebut menyampaikan, pembahasan mengenai lingkungan hidup selalu menjadi topik penting dalam kehidupan manusia. Apalagi saat ini kerusakan hutan Aceh masih terus terjadi.

“Beberapa sumber mencatat setiap tahun 23 ribu hektar hutan Aceh mengalami kerusakan. Kebijakan moratorium illegal logging belum berpengaruh secara signifikan sejak pemberlakuannya,” ujar Samsul.

Guna mendukung pelestarian lingkungan, Unsyiah sejak tahun lalu secara resmi telah membuka program studi kehutanan yang kampusnya berlokasi di Gayo Lues. Lokasi itu dipilih karena berada tepat di kaki Gunung Leuser. Prodi ini ditujukan untuk melahirkan agen perubahan dalam memberi pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

“Bahkan, saat ini sudah banyak alumni Unsyiah yang berkiprah dalam menjaga kelestarian lingkungan, salah satunya bernama Rudi Putra. Rudi berhasil mendapatkan penghargaan lingkungan 2014 dari Goldman Prize di Amerika,” pungkas Rektor.

Kepala Badan Litbang Kementerian Kehutanan, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc menyatakan, populasi harimau di Provinsi Aceh dan sekitarnya terus menurun. Tahun 1999 Aceh dan sekitarnya memiliki 500 ekor harimau, namun tahun 2009-2013 terpantau tinggal 150 ekor.

“Luas hutan Aceh sekitar 3,5 juta hektar. Di dalamnya terdapat Taman Nasional Leuser yang terus menghadapi tantangan. Banyak kawasan hutan saat ini yang di dalamya sudah ada sarana dan prasana yang bukan hutan. Disitu sudah ada jalan, perkampungan dan sekolah. Tugas pemerintah untuk mengaturnya kembali,” paparnya.

Ia menjelaskan, illegal logging dan kebakaran masih menjadi masalah di seluruh Indonesia. Konflik hutan yang terdengar di Aceh biasanya berkaitan dengan gajah. Aktivis pecinta hewan liar sebaiknya menyatukan pendapat dengan pemerintah untuk mengatasi konflik antara hewan dengan manusia. Hewan kebanggaan nasional harus dijaga bersama.

Menurutnya, masalah yang terjadi di Taman Nasional Leuser  tidak bisa dituntaskan sembarangan, karena dapat dituding melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Jadi perlu komunikasi dan klarifikasi yang intens dengan segala pihak.

“Kami ingin ubah kekuatan-kekuatan polisional yang berupa tekanan-tekanan dengan kekuatan untuk mensejahterakan rakyat,” sebutnya.
Sementara itu, Dr. Ilah menambahkan, potensi ekonomi ASEAN sangat besar. Di samping itu persaingan kerja juga semakin tinggi. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus menyiapkan diri untuk menjadi ahli dalam setiap bidang, salah satunya ahli di sektor kehutanan.

“Aceh sangat dekat jaraknya dengan Thailand. Maka perlu dilihat kesiapan Aceh untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Namun, potensi hutan Aceh sangat berpeluang untuk dijadikan wahana wisata hutan apabila mampu dijaga kelestariannya. Di samping itu, hutan juga bisa dijadikan lahanpenelitian bersama antar negara,” ungkapnya. (Mag-57)