Utang RI Naik Jadi Rp 2.795 Triliun, BI : Masih Sangat Sehat

Utang RI Bertambah Jadi Rp 2.795 Triliun, BI : Masih Sangat Sehat


Jakarta - Rasio utang terhadap pendapatan menjelang pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), mengalami kenaikan hingga melebihi 50 persen. Kenaikan DSR tersebut lebih tinggi dibanding periode yang sama 2014 dengan kenaikan 46 persen. Bank Indonesia (BI) pun menyatakan bahwa kenaikan tersebut harus diwaspadai."

"DSR memang angkanya sedikit di atas 50 persen. Nah itu yang perlu dikendalikan," kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Kompleks Istana Kepresidenan, kemarin (20/04/2015).

Mirza menekankan, kenaikan yang paling signifikan terjadi pada utang swasta. Dia menuturkan, peningkatan utang swasta tersebut meningkat hingga USD 163 miliar, jika dibandingkan dengan posisi akhir 2014 lalu. Meski begitu, dia menuturkan, pertumbuhan utang swasta tersebut mengalami perlambatan, akibat adanya aturan lindung nilai (hedging).

"Jumlah utang swasta memang meningkat. Tapi pertumbuhannya melambat. Adanya aturan hedging membantu pertumbuhan ULN (Utang Luar Negeri) swasta untuk lebih sehat,"papar Mirza.

Sebagai informasi, pertumbuhan ULN sektor swasta melambat dari 14,4 persen (yoy) pada bulan sebelumnya menjadi 13,8 persen (yoy), terutama karena perlambatan pertumbuhan pinjaman luar negeri.

Soal utang pemerintah, Mirza menegaskan bahwa hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Karena, kondisi utang pemerintah masih sehat. "Masih sangat sehat. Yang jadi perhatian kan sektor korporasi" imbuhnya.

Total utang Indonesia pada Maret 2015 berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kemenkeu, berjumlah Rp2.795,84 triliun. Angka ini naik sebesar Rp 51,48 triliun dari Februari 2015.

{jpnn}