Ketua Komisi X DPR-RI Minta MOS Dan OSPEK Dihapus

Ketua Komisi X DPR-RI Minta MOS Dan OSPEK Dihapus


Banda Aceh - Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), Teuku Riefky Hasya,MT meminta masa orientasi siswa (MOS) dan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) pada tahun ajaran baru harus dihapuskan.

Hal tersebut disampaikan oleh Teuku Riefky saat menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan di depan seratusan siswa dan mahasiswa dalam acara sosialisasi empat pilar kebangsaan, Minggu (23/08/2015) di Aula LSM Inspirasi Pemuda Aceh (LSM-IPA), Banda Aceh.

"Selama ini, MOS dan OSPEK banyak memberi efek negatif yang kita lihat, jadi pelaksanaan MOS ataupun OSPEK tidak ada gunanya untuk para siswa dan mahasiswa baru," ujar Ketua Komisi X DPR-RI, Teuku Riefky Hasya,MT.

Salah satu efek negatif, kata Riefky, akan terjadinya balas dendam dan berujung ajang kekerasan antara senior ke junior saat tahun ajaran baru selanjutnya. "Ironisnya lagi, ada yang meninggal dunia, akibat MOS dan OSPEK ini, tentu hal ini sangat melukai dunia pendidikan," tegas politisi Demokrat ini.

Selain itu, tambah Riefky, bukan saja adanya korban jiwa, masa orientasi yang sudah berlangsung tiga dekade sejak 1970-an dan terbukti tidak ada manfaat untuk wawasan siswa dan mahasiswa baru, sehingga hal tersebut perlu ditinjau kembali.

"Seharusnya, OSPEK itu bisa menjadi kegiatan yang mengenalkan mahasiswa baru tentang kampus dan kebutuhan kampus. Jika perlu OSPEK ini diisi dengan materi pengenalan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air, tentu ini jauh lebih bermanfaat," ungkap wasekjend DPP Demokrat ini.

Menurutnya, menanam empat pilar sejak dini, tentu salah satu cara untuk memberi semangat dan motivasi kepada negara untuk mencintai tanah air dan bisa memiliki rasa bela negara, karena Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal merupakan sebagai landasan berdirinya dan tegaknya bangsa Indonesia.

"Jika masa orientasi diisi dengan hal-hal tidak baik, terlebih diserahkan sepenuhnya kepada para senior tanpa pengawasan, maka akan terjadi perpeloncoan dan hukuman kepada junior," ungkap politisi Asal Aceh ini.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua LSM IPA, Aidil Mahendra. Menurutnya, jika MOS dan OSPEK tetap diberlakukan, maka harus diisi dengan hal-hal yang positif dan mendidik para junior.

"Memberi pengatahuan ilmu kewarganegaraan, ilmu sosial dan menanam tentang jiwa kepemimpinan, dampaknya pasti akan melahirkan generasi muda yang cerdas, santun, peduli sesama dan cinta tanah air, dan begitu juga sebaliknya," ujar mantan aktivis ini.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, perpeloncoan itu dilakukan dengan beragam cara. Mulai dari keharusan datang ke sekolah lebih pagi dari jam masuk sekolah, berjalan kaki ratusan meter ke sekolah, juga pemberian hukuman oleh senior karena siswa baru dianggap salah serta bentakan untuk berbagai kegiatan. {put}