Ingin Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, YLKI : Jokowi Jangan Mimpi



Jakarta - Megaproyek pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW) yang digagas Jokowi terus menuai kontroversi. Proyek ini beberapa kali ditentang oleh Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli. Rizal Ramli sempat memangkas program tersebut menjadi 16.000 MW, namun Jokowi akhirnya menegaskan proyek listrik 35.000MW tetap berjalan.

Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi melihat, proyek pembangkit listrik ini harus tetap berjalan karena kebutuhan listrik di tanah air sudah tidak bisa ditawar lagi. PLN juga sudah terlihat keteteran dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan industri.

"Sejak 5 tahun terakhir pelayanan PLN memang terjadi kekurangan daya, belum level krisis tapi kekurangan daya. Sehingga yang ada maksimal PLN hanya bisa memenuhi akses rumah tangga, tapi untuk industri belum mampu menyambung," ujar Tulus dalam diskusi Energi Kita di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (04/10/2015).

Tulus mengatakan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dalam 5 tahun yang dicanangkan Jokowi bisa terancam jika Indonesia kekurangan listrik. Angka pertumbuhan sulit dicapai tanpa dukungan listrik bagi industri.

Tulus menegaskan, sektor industri merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi suatu negara.

"Akhirnya pertumbuhan ekonomi menjadikan listrik sebagai prasyarat. Presiden Jokowi kan mencanangkan pertumbuhan ekonomi 8 persen, kalau tidak ada listrik ya jangan mimpi pertumbuhan ekonomi bisa tercapai. Yang utama adalah tanggung jawab negara untuk menyediakan listrik dengan harga terjangkau," pungkasnya.


via Merdeka