DPR-RI Minta Konflik Agama di Aceh Tidak Terulang



Banda Aceh - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR-RI), Teuku Riefky Harsya meminta agar konflik agama tidak terulang lagi di Aceh.

"Sudah cukup Aceh dilanda konflik berdarah puluhan tahun, dan perdamaian yang telah kita gapai saat ini, haruslah kita jaga bersama," ujar Anggota DPR-RI, Teuku Riefky Harsya didepan peserta empat pilar kebangsaan, Jum'at (20/11).

Jadi, kata Riefky, konflik yang terjadi di Aceh Singkil dan beberapa tempat lain di Aceh, diharapkan kejadian yang terakhir kalinya.

“Konflik antar agama di Aceh beberapa waktu lalu sangatlah tidak kita inginkan, karena selama ratusan kejayaan islam berjaya, kita sangatlah toleran dan tidak ada sejarah konflik di Aceh disebabkan konflik agama, sehingga yang terjadi beberapa waktu lalu, menjadi catatan bagi kita bersama,” ungkap politisi asal Aceh ini.

Sebagai anggota DPR RI, lanjutnya, pihaknya merasa perlu memberikan pengenalan, pengertian dan pemahaman yang lebih mendalam kepada masyarakat, guna mencegah terjadinya berbagai konflik yang sedang maupun yang akan terjadi.

Dengan digelarnya sosialisasi empat pilar tersebut, lanjutnya, masing-masing Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika bisa menjadi dasar bagi kita semua, meski berbeda-berbeda, namun kita tetap satu dan tetap dalam bingkaian NKRI.

 "Zaman dulu, kita masih bisa merasakan begitu kentalnya rasa gotong royong dalam kehidupan. Kentalnya rasa persaudaraan dan silaturahmi, saling menghormati sesama, sedangkan saat ini sudah mulai pudar, bahkan terkadang tetangga sendiri kita tidak saling kenal," terangnya.

Ideologi Pancasila sebagai dasar negara, lanjutnya, tidak boleh berubah seiring dengan perubahan zaman saat ini, sebab Pancasila merupakan dasar negara yang harus dipertahankan dan menjadi ideologi bangsa.

"Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika merupakan empat pilar yang harus menjadi pedoman hidup masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Karena, ini satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," tegasnya.

Selain itu, tambahnya, kebhinekaan dan perbedaan merupakan suatu hal yang tidak bisa dilepaskan di dalam kehidupan bangsa Indonesia.

"Konsep Bhineka Tungga Ika akan sangat relevan untuk dapat dipertahankan dalam menjaga persatuan dan kesatuan serta keutuhan NKRI. Penanaman dan penguatan itu harus dimulai sejak dini supaya bangsa Indonesia tetap kokoh dan terhindar dari berbagai ancaman dan konflik," ungkapnya.

Menurutnya, Pancasila sebagai ideologi bangsa bukan hanya semata atau sebagai omongan belaka, akan tetapi Pancasila harus diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Saya yakin, kita semua sudah mengetahui empat pilar, tetapi tidak bisa hanya sekedar diketahui, namun harus bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari," pintanya. (bhi)