Sebut Muslim Seperti Nazi, Politisi Ini Malah Kalah



AcehJournalPasific.com - Terkait dengan teror yang terjadi baru baru ini, para politikus di Prancis pun berupaya mengambil keuntungan dari teror yang terjadi di Paris itu. Partai Front Nasional (FN) memanfaatkan ketakutan pada Islam atau Islamphobia dan menyuarakan anti menerima imigran. Dengan begitu mereka berharap meraih kemenangan, namun hal mengejutkan justru terjadi sebaliknya.

Dilansir dari VOA, Senin (14/12/2015) dari hasil jajak pendapat, Pemimpin Front Nasional Marine Le Pen dan keponakannya, Marion Marechal-Le Pen, sama-sama gagal memimpin daerah terpenting di Perancis. Calon partai itu juga kalah di tiga daerah lainnya.

Marine Le Pen dikenal sering mengeluarkan komentar rasisnya pada Islam. Meski muslim menjadi pemeluk agama terbesar nomor dua di Perancis, dengan 10 persen dari populasi, tidak mengurangi komentar pedas Le Pen.

Ia pernah mengkritik ketika 15 tempat publik di Prancis terpaksa ditutup saat Muslim melakukan salat Jumat, Idul Adha, dan Idul Fitri. Politikus wanita itu lantas menyamakan muslim yang salat seperti Nazi.

''Mereka yang bicara Perang Dunia II, akan tahu praktek doa di jalanan hanya terjadi saat pendudukan Nazi,'' kata Le Pen ketika itu.

Le Pen yang didukung FN hanya unggul di enam dari 13 daerah pemilihan pada Pilkada putaran pertama, yang digelar minggu lalu.
Hasil semua pemilihan di 13 daerah di Perancis dirilis Minggu malam. Jika hasil jajak pendapat itu benar, maka ini akan menjadi kekalahan telak bagi Le Pen.

Karena ia berharap kemenangan akan menjadi batu loncatannya untuk mencalonkan diri sebagai presiden tahun 2017, bersaing dengan Sarkozy dan Presiden negara itu, Francois Hollande.

Saat muncul ketakutan pasca teror dan imigran, FN lantas memanfaatkannya sebagai bahan kampanye mereka. Situasi ini sebelumnya memang diyakini mendongkrak suara.

Namun setelahnya partai Sosialis yang berkuasa melakukan kejutan. Mereka menarik calon di dua wilayah penting dalam putaran kedua, dan menganjurkan pendukung mereka memilih Sarkozy dari Partai Republik. Tujuannya agar FN tidak meraih kemenangan. Meski popularitas Hollande melonjak dengan sikap kerasnya pada terorisme pasca serangan Paris, namun peringkat partainya tidak mampu naik. Hal ini lantas terbukti dengan hasil jajak pendapat yang menempatkan FN mengalami kekalahan di basis suara terpenting. {jwp}