'Digarap' Kakek, Sang Cucu Pun Akhirnya Mengandung Anak Kakek Kandung

bunga


Surabaya – Bunga (nama samaran) terlihat lemas ketika menghadiri sidang kasus pencabulan. Saat datang, Bunga memang sedang hamil. Bunga mendatangi Pengadilan Negeri Surabaya untuk menjadi saksi dalam kasus pencabulan yang dilakukan Yudi alias Gendut, kakek kandungnya.

Ditemani oleh lima saudaranya, remaja belia yang baru berusia 14 tahun itu lantas mengungkap semua kejadian yang membuat dirinya terpaksa mengandung benih kakek kandung. Dalam sidang yang berlangsung tertutup tersebut, seluruh saksi menceritakan kronologi pencabulan. Perbuatan tersebut bermula ketika liburan panjang setelah Bunga lulus SD dan menunggu hari untuk masuk SMP. Saat liburan itu, Bunga meminta kakeknya untuk mengukur punggungnya untuk membuat seragam sekolah.

Sang kakek pun mengukur dengan tangan dan melanjutkannya dengan memijat. Pijatan itu berlanjut ke rabaan hingga akhirnya celana korban dilepas. Korban sempat menolak perlakuan kakeknya. Namun, Yudi berupaya membujuk cucunya dan meyakinkan bahwa perbuatannya tidak akan menyebabkan hamil.

Selama Juli hingga September 2015, Yudi melakukan pencabulan sembilan kali terhadap korban. Keberanian Yudi bertambah. Pada Oktober 2015, dia pun nekat untuk berhubungan layaknya suami istri dengan Bunga. Perbuatan tersebut terulang hingga Desember 2015. Pelaku berpesan agar korban tidak membocorkan perbuatan itu kepada neneknya yang tinggal serumah.

Perbuatan tersebut lantas terungkap ketika perut Bunga semaki lama kian besar. Setelah didesak, Bunga akhirnya mengaku, bahwa dirinya tengah mengandung anak kakeknya. Sejak itulah, Bunga diungsikan dan tidak lagi tinggal bersama kakek-neneknya.

Jaksa Anggraini mengatakan, korban tidak punya pilihan karena diancam tidak dibiayai sekolah. Termasuk dibelikan buku dan diberi uang saku. Karena takut, korban mau-mau saja diperlakukan tidak pantas oleh sang kakek. Saat ini usia kandungan korban sudah tujuh bulan. "Terdakwa dijerat pasal 81 dan 82 Undang-Undang Perlindungan Anak," katanya.{jpnn}