Razia Busana Ketat di Pango, Puluhan Pria Dan Wanita Terjaring

pakaian ketat


Banda Aceh – Sebanyak 79 orang warga terjaring razia dalam operasi gabungan penertiban busana Islami yang digelar polisi syariat Islam provinsi Aceh di gampong Pango, kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh, 22 diantaranya laki-laki dan sisanya perempuan, Jum’at (08/04/2016).

Kepala Seksi Penegakan Pelanggaran Polisi Syariah, Provinsi Aceh Nasrul Miadi mengatakan, razia itu merupakan operasi lanjutan yang selama ini sudah digelar di beberapa titik Kota Banda Aceh.

“Saat ini apa yang kita lakukan di lapangan hanya berupa pembinaan, berbeda dengan kasus lain yang sudah pada tahap pemberian sanksi,”ujar Nasrul Miadi.

Untuk saat ini, sejak berlakunya Qanun Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah, maka Qanun Nomor 12 Tahun 2003 tentang Minuman khamar kemudian Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Maisir dan Perjudian dan Qanun Nomor 14 tahun 2003 tentang Khalwat dan Mesum telah dicabut dan tidak berlaku lagi di Aceh, sementara Qanun no 11 tahun 2002 tentang aqidah, ibadah dan syariat Islam menyangkut puasa, shalat jum’at dan pakaian Islami masih berlaku dan belum dicabut, sehingga akan terus dilakukan pembinaan.

“Pasal 23 masih dalam tahap pembinaan, sepanjang pasal ini belum dicabut kita akan terus melakukan pembinaan, himbauan dan seruan dalam menyadarkan masyarat,” ujar Nasrul.

Menurutnya, bila dibandingkan pada saat sebelum berlakunya Qanun Syariat Islam, kini banyak masyarakat yang sudah berubah, sehingga dari yang tidak menggunakan jilbab kini sudah semuanya menggunakan jilbab, begitu juga dari yang memakai rok mini, kini sudah mulai menggunakan rok yang tertutup semua.

Meski begitu, masih banyak masyarakat Aceh yang menggunakan pakaian ketat, sehingga masih masuk dalam katageori melanggar Syariat Islam dari segi berbusana.

Ia menambahkan, ciri pakaian Islami harus menutup aurat bagi wanita dan pria, berpakaian longgar dan tidak boleh ketat, tidak tipis, dan bahannya harus terbuat dari bahan yang suci.

“Berpakaian longar tidak mesti rok, celana juga boleh asalkan longgar sehingga tidak menampakkan lekuk tebuh,” urai Nasrul

Pihaknya juga akan mengevaluasi buku induk pelanggar jika masih ada ditemukan pelanggar yang sama, pihaknya akan memberikan sanksi khusus seperti penahanan 1 x 24 jam.

“Sudah saatnya Qanun Nomor 11 Tahun 2002 Khusus Pasal 13 dan Pasal 23 harus segera direvisi, saya sudah ngomong dengan stakeholder agar segera direvisi,” kata Nasrul.

Ia juga meminta kepada pihak terkait agar penerapan aturan kaca film pada mobil yang hanya diperbolehkan memiliki kadar kegelapan 40 persen hingga 60 persen harus benar-benar diterapkan, karena selama ini di Aceh banyak terjadi kasus pelanggaran Syariat Islam di dalam mobil.

sumber : AJNN