Setiap Tahun, Angka Perceraian Di Aceh Makin Meningkat

perceraian


Banda Aceh - Kasus penceraian mengalami peningkatan setiap tahunnya di Aceh. Umumnya, penceraian ini terjadi karena himpitan ekonomi yang berujung istri menggugat cerai suaminya dan juga pernikahan muda.

Berdasarkan data dari Mahkamah Syariah Aceh, pada tahun 2015 lalu angka penceraian mencapai 5000 kasus, meningkatkan dibandingkan tahun 2014 hanya terdapat 3.400 kasus penceraian di Aceh.

"Ada 5000 kasus penceraian terjadi di Aceh pada 2015, dan ini meningkat yang sebelumnya pada tahun 2014 hanya 3.400 kasus," kata Kepala BKKBN Provinsi Aceh, Drs M Natsir Ilyas, usai peresmian “Pencanangan Gampong KB di Gampong Naga Umbang Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, (25/04/2016).

Natsir menyebutkan, perceraian terjadi akibat adanya beberapa faktor seperti kasus kawin di usia muda, ekonomi dan kesejahteraan keluarga. Angka penceraian di Aceh 20 persen diakibatkan kawin diusia muda, 20 persen masalah ekonomi, dan 60 persen perceraian itu digugat oleh kaum perempuan.

"Ini sangat memprihatinkan, dalam hal ini si suami harus berperan maksimal. Nah, dengan program program keluarga berencana bisa meminimkan angka kasus perceraian dan mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga," jelasnya.

M Natsir Ilyas mengharapkan, melalui pencanangkan Gampong KB (keluarga Berencana) itu dapat menyukseskan program keluarga berencana serta meningkatkan perekonomian dan taraf hidup masyarakat. Untuk itu, ia mengharapkan dukungan semua pihak agar pencanangan Gampong KB itu dapat berjalan sukses.

“Pencanangan Gampong KB di Gampong Naga Umbang Kecamatan Lhoknga ini merupakan yang ke-17 di Provinsi Aceh. Mudah-mudahan, masyarakat di gampong ini dapat terus sejahtera dan makmur,” ujarnya.

Kegiatan tersebut, kata Natsir, merupakan program integrasi yang dapat mengikutsertakan semua dinas terkait untuk mendukungnya. Oleh karena itu, ia berkeyakinan dengan dukungan semua pihak, kegiatan tersebut dapat berlangsung baik di Kabupaten Aceh Besar.

sumber : habadaily